Rabu, 07 Juni 2017

Disclaimer

ABM Disclaimer - Privacy Policy - Terms of Use

Adat dan Kebudayaan Minahasa banyak tergerus seirama perubahan jaman, sudah banyak yang terungkap namun tidak sedikit yang masih terpendam bahkan sengaja ditutup dalam-dalam dengan alasan agama atau faktor lain yang tak diketahui. Sepenggal tulisan didalam merupakan bukti masih banyaknya hal yang perlu diketahui dan diwariskan untuk anak cucu kita. 

Konten yang terkandung dalam blog adalah berupa informasi atau gambaran umum akan sesuatu yang pernah terjadi dan terbukanya tabir rahasia terbesar Etnis Minahasa.

Segala isi Posting di website ini ditujukan sebagai suatu bahan kajian lebih mendalam untuk mencapai pembenaran sejati tentang kondisi dan keadaan yang pernah terjadi di masa lalu. Namun ada banyak fakta dan kejadian yang belum pernah diungkap dan bisa dijadikan kajian baru untuk memperkaya khasanah kebudayaan Minahasa.

Ada beberapa isi konten didalam website ini juga berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis serta penelusuran di berbagai tempat atau daerah di Minahasa mengenai tempat dan ritual sakral yang sengaja disamarkan dan tidak boleh dipraktekan tanpa didampingi pihak berkompeten. Isi tulisan dengan bahasa Tountemboan Ma kele’I sengaja oleh penulis di buat samar dan kurang lengkap sehingga hanya sampai dikonsumsi untuk di baca saja.

Menyebarluaskan serta menarik keuntungan dari semua isi konten di dalam harus seijin penulis dan dapat disampaikan melalui Email: kebudayaanminahasa@gmail.com.

Admin ABM Bloger tidak bertanggung jawab atas kerugian yang dialami pembaca dari blog ini.
Kutipan atau Copas dari posting di blog ini WAJIB mencantumkan link atau sumber :
http://adatbudayaminahasa.blogspot.co.id/

Fenomena Langka Pada Tanggal 9 juni 2017.


Tulisan ini berdasar tuturan para tua tua Minahasa dengan basic penghayat murni agama kuno Minahasa. Setidaknya tulisan ini diperuntukan dan dikonsumsi pemerhati, pencinta serta penganut kepercayaan tua Minahasa.

Tanggal 9 juni 2017 merupakan hari special dengan beberapa keunikan tersendiri dimana:
      Tanggal 9 adalah angka sacral tingkatan terakhir menuju kesempurnaan jika dikaitkan dengan agama tua adalah hari terbaik melakukan persembahan (u’umper), memanjatkan doa (mangaley) serta permohonan mendapat berkat (rumeindeng). Ketiga hal ini pada dasarnya harus dilakukan dan di pastikan kesemuanya jika dilakukan sangat besar kemungkinan segala keinginan pasti dikabulkan.
      
      Pada tanggal 9 Juni 2017 pukul 21:10 WITA merupakan penampakan bulan purnama (serap wangko) namun yang paling terkecil sepanjang tahun 2017 ini dengan diameter sudut 29,4 menit busur. Bulan purnama yang lebih kecil dari tahun ini akan terjadi pada 22 Oktober 2029 kembali. Jika dikaitkan dengan kepercaan lama bulan purnama ini adalah hal yang special dimana segala roh-roh leluhur bagus (reges loor) muncul kebumi dibandingkan dengan yang jahat (reges lewo).
      
      Beberapa tradisi biasa dilakukan menyangkut ritual supranatural yaitu mandi cahaya bulan purnama dimalam hari (bisa dibayangkan jika dilakukan siang hari), pembersihan benda-benda bertuah, pengisian benda bertuah, persembahan dan doa ditempat-tempat keramat dll.
      
      Jika berkiblat ke angka dimana 9 Juni 2017 pukul 21:10 WITA akan menjadi 9+6+2+1+7+2+1+1 = 29 dibaca 2x9 =9 9 atau Makarua Siouw. Makarua Siouw merujuk pada para pengatur ibadat dan adat suku Minahasa yang kita kenal yaitu ‘Walian”. So pasti ini harinya para Walian.
      
      Demikian sepenggal tulisan ini yang dikutip dari sastra lisan Tou Minahasa.

Yaku






Ketika Tou Tompaso saat ini mulai terpecah belah..
Ketika Bahasa Hati tidak lagi sama tujuan..
Ketika Fondasi Falsafah Negara Indonesia mulai runtuh...
Ketika Pancasila tidak lagi Berkharisma...
Ketika Rasa telah menjadi.. Hasrat dan Ambisi....
Tuhan...INGIN kita satukan kembali semua itu...dengan... 
BUDAYA TUMOMPASO sebagai akar budaya Minahasa dalam suatu bingkai......

Esa un nate Melur Ing Kayobaan.

Selasa, 06 Juni 2017

Makna dan kejadian alam bagi orang Tumompaso.



Serap = Bulan:
Awean ang kanaramen ne tou andiorwo lumele sesendot I serap wangko ang katoda I wengi. Eng kasusuy I walian wangko ung mangaley asi Amang Kasuruan Wangko wo ase anduruna tumuun eng u umper wo se welet:
Maknanya:
Disaat bulan purnama:
1.       Eng kanaramen mersi eng nowak sa u kinauntepan reges lewo.
2.       Mee keketer wangko sumaru se reges lewo.
3.       Sa u cita sumaru amicona o se sera pang amiconape, pakasa eng kukuwata paka Kamangen ne Amang Kasuruan Wangko.
4.       Sa u cita sumere keli awan makatampa ke, ase wondo I noras uran tumumpa repet.
5.       Kanaramen Rumeindeng mangaley kamang ase Amang Kasuruan Wangko.
6.       Ung kanaramen muser eng kawolinsuan wo eng kalewoan sumapape se kalengeyan ne pakasa tou in doong.

Bila terjadi Gerhana Bulan:
Sa ka mamualian Sumesendot Serap Wangko wo ca niamaen eng kanaramen u nitu, ang kamamualian:
1.       Pakasa eng tou ase roong menginde-nginde o menalo-nalo kinasapaan ke mei awean se pakikiten ase roong u nitu medel yo ure, eng sumawel ase pakikiten u nitu pe wana ase roong u nitu.
2.       Yo u nure ni meiem se endo paso lambot sa u kiiten kuntung soputan sumembur wo medo eng kayobaan makakeli.
3.       Kauntepan ne sasakitan weru wo muntep ase tou pakasa papiaran ambale.
4.       Kawukaan ne em papalen ase kayobaan ne tou wo se sila caka pilaan, se reges lewo wo se loor tumumpa ase kayobaan sapakem situ makelar ase serap wangko sumawil mei.
5.       Awean sasaru em pa sakaan ase roong weyna ato se tou kumakatampa ang kesot.
6.       Makatanda eng  ka tinanemanta kamamualian maka mal an kinasapaan eng tinanem keli malewo.
7.       Eng u nuran maka lambot, sapakem se papiaranta keli mate.

Sa ka mamualian Sumesendot Serap Wangko wo kinakiitan ung kanaramen , ang kamamualian:
1.       Pakasa en tou masama-sama ung nulit wo cakatenaan ni kalewoan eng katoutouan.
2.       Eng kakanen ca u susa engaten pakasa eng tinanem maloor waya.

3.       Ze reges lewo kauseran nimuntep ang kayobaan I yasa se ma lali karusak wo se reges loor nimento asi kayobaan anio si ma bee kamang acita pakasa.


Lokasi Tua Minahasa di Tumompaso.

Luwak

Nama atau tempat sumber air yang terkenal di sekitar Tompaso diantaranya;
1.            Luwak, dilokasi kebun yang bernama Sumesegha. Didesa Tempok Selatan.
2.            Sowa, diperkebunan desa Sendangan.
3.            Pa’asuan, di perkebunan desa Tompaso Dua.
4.            Pale’lean kawayo, diperkebunan desa Pinabetengan.
5.            Rano Kamang’a di perkebunan desa sendangan.
6.            Rano Kasuruan, di perkebunan desa sendangan.
7.            Meinit, dilokasi kebun yang bernama Sumesegha. Didesa Tempok Selatan.
8.            Rano Lesi, dilokasi perkebunan desa Touure.
9.            Rano Kinatalaan, dilokasi perkebunan desa Touure.
10.          Bandungan, dilokasi kebun yang bernama Sumesegha. Didesa Tempok Selatan.
11.          Seda Mata, diperkebunan Desa Sendangan.


Yaku Si Mapatik

Uyi Langi

Keputusan tanpa pertimbangan matang, yang berdampak pada terancamnya keberadaan sebuah kebudayaan asli. Semisal, keputusan melalui kesombongan teknologi, ekonomi, politik, yang secara berangsur dapat dengan mudah menggeser nilai-nilai budaya/tradisi asli. Minahasa saat ini dalam darurat budaya dimana semua instrumen menjadi gejala menuju pemberangusan. Bukankah kita ESA NENDA Wo ESA ROONG Saatnya kita BELA TARANAK, BELA MINAWANUATA MiNAHASA. I Yayat U Santi, ULIT. En Tho. ...Pee'BOo

Popular Posts

Flag Counter

Text Widget


Diberdayakan oleh Blogger.

In Tepe

Disclaimer

ABM Disclaimer - Privacy Policy - Terms of Use Adat dan Kebudayaan Minahasa banyak tergerus seirama perubahan jaman, sudah banyak yang ...

Cari Blog Ini

About

(masukkan URL foto di sini) alt=”” width=”240″ height=”180″/>

(masukkan teks/kalimat di sini)

Popular Posts