Rabu, 07 Juni 2017

Fenomena Langka Pada Tanggal 9 juni 2017.


Tulisan ini berdasar tuturan para tua tua Minahasa dengan basic penghayat murni agama kuno Minahasa. Setidaknya tulisan ini diperuntukan dan dikonsumsi pemerhati, pencinta serta penganut kepercayaan tua Minahasa.

Tanggal 9 juni 2017 merupakan hari special dengan beberapa keunikan tersendiri dimana:
      Tanggal 9 adalah angka sacral tingkatan terakhir menuju kesempurnaan jika dikaitkan dengan agama tua adalah hari terbaik melakukan persembahan (u’umper), memanjatkan doa (mangaley) serta permohonan mendapat berkat (rumeindeng). Ketiga hal ini pada dasarnya harus dilakukan dan di pastikan kesemuanya jika dilakukan sangat besar kemungkinan segala keinginan pasti dikabulkan.
      
      Pada tanggal 9 Juni 2017 pukul 21:10 WITA merupakan penampakan bulan purnama (serap wangko) namun yang paling terkecil sepanjang tahun 2017 ini dengan diameter sudut 29,4 menit busur. Bulan purnama yang lebih kecil dari tahun ini akan terjadi pada 22 Oktober 2029 kembali. Jika dikaitkan dengan kepercaan lama bulan purnama ini adalah hal yang special dimana segala roh-roh leluhur bagus (reges loor) muncul kebumi dibandingkan dengan yang jahat (reges lewo).
      
      Beberapa tradisi biasa dilakukan menyangkut ritual supranatural yaitu mandi cahaya bulan purnama dimalam hari (bisa dibayangkan jika dilakukan siang hari), pembersihan benda-benda bertuah, pengisian benda bertuah, persembahan dan doa ditempat-tempat keramat dll.
      
      Jika berkiblat ke angka dimana 9 Juni 2017 pukul 21:10 WITA akan menjadi 9+6+2+1+7+2+1+1 = 29 dibaca 2x9 =9 9 atau Makarua Siouw. Makarua Siouw merujuk pada para pengatur ibadat dan adat suku Minahasa yang kita kenal yaitu ‘Walian”. So pasti ini harinya para Walian.
      
      Demikian sepenggal tulisan ini yang dikutip dari sastra lisan Tou Minahasa.

0 komentar:

Posting Komentar

Yaku Si Mapatik

Uyi Langi

Keputusan tanpa pertimbangan matang, yang berdampak pada terancamnya keberadaan sebuah kebudayaan asli. Semisal, keputusan melalui kesombongan teknologi, ekonomi, politik, yang secara berangsur dapat dengan mudah menggeser nilai-nilai budaya/tradisi asli. Minahasa saat ini dalam darurat budaya dimana semua instrumen menjadi gejala menuju pemberangusan. Bukankah kita ESA NENDA Wo ESA ROONG Saatnya kita BELA TARANAK, BELA MINAWANUATA MiNAHASA. I Yayat U Santi, ULIT. En Tho. ...Pee'BOo

Popular Posts

Flag Counter

Text Widget


Diberdayakan oleh Blogger.

In Tepe

Disclaimer

ABM Disclaimer - Privacy Policy - Terms of Use Adat dan Kebudayaan Minahasa banyak tergerus seirama perubahan jaman, sudah banyak yang ...

Cari Blog Ini

About

(masukkan URL foto di sini) alt=”” width=”240″ height=”180″/>

(masukkan teks/kalimat di sini)

Popular Posts